Home » » Kisah "Panon Hideung"

Kisah "Panon Hideung"

Written By Kota Kembang on Rabu, 03 Agustus 2011 | 00.22


Panon Hideung, lagu rakyat Sunda yang melegenda, lumayan populer di dunia. Tampil asli di film Eastern Promises karya David Cronenberg (2007)), dibawakan gitaris Django Reinhardt (2005) dalam aransemen jazz, atau dalam dentingan bouzouki yang begitu memukau dipetik pakarnya, John Stamatiou Sporos, dan banyak lagi.

Lirik "Panon Hideung"
Panon hideung pipi konéng

[Mata hitam pipi kuning]
Irung mancung Putri Bandung
[Hidung mancung putri Bandung]
Putri saha di mana bumina?
[Anak siapa di mana rumahnya?]
Abdi resep ka anjeunna[Aku suka padanya]
Siang wengi kaimpi-impi
[Siang malam terimpi-impi]
Hate abdi sararedih
[Hatiku merasa sedih]
Teu émut dahar
[Tidak ingat makan]
Teu émut nginum[Tidak ingat minum]
Émut ka nu geulis[Ingat pada si cantik]
Panon Hideung
[Mata hitam]
Ismail Marzuki, komposer nasional asal Betawi, menulis lirik di atas sekitar tahun 1936-1937. Pada masa itu Ma’ing —begitu ia dipanggil— dan orkesnya, diminta mengisi acara radio di Bandung di segmen lagu-lagu Barat. Itulah masa-masa saat ia mempelajari dan menguasai komposisi lagu-lagu barat dan lagu tradisional. Banyak lagu Barat yang digubah dan diterjemahkan. Salah satunya adalah Ochi Chyornye (Mata Hitam – Panon Hideung), berkat bantuan Zarkov, seniman asal Rusia yang tinggal di Bandung.

Sebagai informasi, zaman dulu memang banyak seniman asal Rusia berkarya di sini, ada orkes asal Rusia yang tampil reguler di Hotel Des Indes selama 10 tahun, atau di Surabaya ada Pedro (atau Pyotr=Peter), sang pendiri teater Dardanella yang legendaris.


Adalah Miss Eulis, seorang bintang radio, penyanyi kroncong berdarah Sunda dan Arab yang membuat Ma'ing (Ismail Marzuki) terinspirasi lewat Panon Hideung. Tampaknya Miss Eulis memang bermata indah, hidung mancung dan berkulit kuning langsat. Lagu Ochi Chyornye pun digubah Ma’ing sesuai dengan suasana hatinya saat itu.



Hati wanita mana yang tak luluh. Ma’ing pun berhasil menikahi Miss Eulis pada 1940, dan memberinya nama Eulis Zuraidah. Generasi masa kini mungkin sangat yakin bahwa Panon Hideung adalah lagu tradisional Pasundan. Namun Rusia sama sekali tidak terusik, Presiden Putin hanya bertanya pada SBY “kok bisa?” saat disuguhi nyanyian pada kunjungan September tahun lalu.


Tak ada emosi atau tuntutan gaya kita. Ini kemungkinan besar karena lagu itu sejatinya terus hidup dan berkembang sebagai budaya Rusia. Rakyat menyanyikannya di berbagai kesempatan: di acara pernikahan; di kafe; di jalanan; saat sadar atau mabuk (pemabuk di sana lebih suka bernyanyi atau molor daripada membuat onar). Sungguh merakyat, bahkan lebih. Lagu itu juga diperformansi oleh Red Army Choir atau oleh para profesional di film, televisi, konser, atau di opera house di dalam mau pun di luar negeri. Barangkali perannya bagi mereka mirip dengan peran batik bagi kita.

Itulah kekuatan budaya yang hidup. Kekuatan budaya yang bukan sekedar kenangan masa kecil. Kekuatan yang akan membentengi dengan sendirinya jika ada yang mencoba mengklaim Ochi Chyornye sebagai lagu asli rakyat Pasundan.

Tidak hanya karena lagu itu hidup dan berkembang di Rusia, liriknya pun sudah ditelusuri: sebuah puisi gubahan Yevgeniy Pavlovich yang tercetak 17 Januari 1843, aransemennya sudah terpublikasi pada 1884. Bahkan kaum gypsy di seluruh Eropa sudah menganggap Ochi Chyornye sebagai lagu leluhur mereka. Bahwa liriknya adalah karya orang Ukraina dan aransemennya digubah Florian Hermann —orang Jerman, tidaklah menjadi soal.

Ada sebuah kenyataan yang terasa cukup pahit. Di internet sulit sekali mendapatkan vokal Panon Hideung. Di YouTube ada instrumental versi Tielman Brothers (1960), sebuah band indo yang sangat populer hingga ke Belanda. Ada juga Sandii —seorang diva J-pop, gadis Jepang— meremix beberapa versi Panon Hideung di album Pacifica dan Joget to the Beat (keduanya 1992). Sebagian syairnya diubah, putri Bandung menjadi jejaka Bandung (pada 1993 bersama Oma Irama menelurkan album Air Mata).

Khusus berbicara The Tielman Brothers (sepintas sekarang gaya panggungnya diadopsi band The Changchuters), adalah sebuah grup musik asal Indonesia. Musik mereka beraliran rock and roll, namun orang-orang di Belanda biasa menyebut musik mereka Indorock, sebuah perpaduan antara musik Indonesia dan Barat, dan memiliki akar di Keroncong. The Tielman Brothers adalah yang band Belanda-Indonesia pertama yang berhasil masuk internasional pada 1950-an. Mereka adalah salah satu perintis rock and roll di Belanda. Band ini cukup terkenal di Eropa, jauh sebelum The Beatles dan The Rolling Stones.

The Tielman Brothers pernah tampil di Istana Negara Jakarta dihadapan Presiden Soekarno. Mereka adalah anak dari Herman Tielman asal Kupang dan Flora Lorine Hess asal Semarang. Karier rekaman mereka dimulai ketika keluarga Tielman pada tahun 1957 hijrah dan menetap di Breda, Belanda. Nama The Tielman Brothers lebih dikenal di Eropa, terutama Belanda. Di Indonesia sendiri, nama The Tielman Brothers masih menjadi nama yang asing, sebuah kenyataan yang sangat disayangkan.

The Tielman Brothers dipercaya lebih dulu memperkenalkan musik beraliran rock sebelum The Beatles. Aksi panggung mereka dikenal selalu atraktif dan menghibur. Mereka tampil sambil melompat-lompat, berguling-guling, serta menampilkan permainan gitar, bass, dan drum yang menawan. Andy Tielman, sang frontman, bahkan dipercaya telah memopulerkan atraksi bermain gitar dengan gigi, di belakang kepala atau di belakang badan jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page atau Ritchie Blackmore.

Sumber: www.bataviase.wordpress.com, tulisan Barlan Setiadijaya, Surianto Kartaatmadja, Remy Silado, wikipedia


Baca Artikel Terkait Lainnya:

Share this article :

Kaos Khas Bandung

Translate

 
Support : About Us | Privacy Policy | Contact Us
| Site Map
Copyright © 2008. Informasi Bandung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger